Banjarnegara, Sinnewsbara — Rabu, 15 November 2025, suasana halaman Istana Yatim At-Taslim Yasin Terpadu tampak hidup dan penuh semangat. Puluhan peserta dari berbagai latar belakang hadir mengikuti Pelatihan Pertanian Organik Terpadu bersama narasumber Khoirul Bahri Priyono (KB), alumni BAYU Sehat Mandiri (BSM).

Makna dan Konsep Pertanian Terpadu IF 1005
Dalam materinya, KB memperkenalkan konsep Integrated Farm 1005 (IF 1005), yaitu sistem pertanian terpadu yang menggabungkan pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu kesatuan siklus kehidupan yang saling menguntungkan.
Model ini berpegang pada filosofi “Sewu Limo”, singkatan dari Sehat, Ekonomis, Wajar, Unggul, dan Lestari — lima prinsip dasar yang menjadi panduan untuk menciptakan pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga menjaga keseimbangan alam dan nilai kemanusiaan.
Melalui perencanaan lahan seluas 1000 meter persegi, sistem IF 1005 terbukti mampu menghasilkan pendapatan rata-rata Rp5 juta per bulan. Kuncinya, kata KB, terletak pada integrasi unsur kehidupan di lahan tersebut:
- Limbah ternak dijadikan pupuk organik cair dan padat,
- Air kolam ikan menjadi sumber nutrisi alami bagi tanaman,
- Sisa tanaman kembali menjadi pakan ternak.
“Dengan sistem terintegrasi, tidak ada yang terbuang. Semuanya saling menyokong. Dari lahan kecil pun bisa memberi hasil besar jika dikelola dengan ilmu dan kesungguhan,” jelas KB.
Manfaat dan Nilai Tambah Sistem IF 1005
Model ini memberi banyak manfaat bagi masyarakat, di antaranya:
- Meningkatkan produktivitas tanpa perlu lahan luas,
- Mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan pakan kimia,
- Meningkatkan kesehatan keluarga melalui konsumsi pangan organik,
- Mendorong lahirnya wirausaha baru berbasis desa,
- Menjadi solusi ramah lingkungan dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Konsep IG 1005
Selain IF 1005, peserta juga diperkenalkan konsep Pertanian Terpadu 234, yang merupakan pengembangan lanjutan dengan tiga pilar utama:
- Hulu (Perencanaan Produksi dan Pembibitan) – tahap awal membangun kualitas bibit unggul dan media tanam yang sehat.
- Hiliri (Pengolahan dan Pemasaran Hasil) – mengubah hasil panen menjadi produk bernilai tambah seperti olahan pangan organik.
- Religi (Nilai Spiritual dan Amanah Bumi) – menanamkan kesadaran bahwa bertani adalah ibadah menjaga ciptaan Allah.
Konsep 234 juga menargetkan pengembangan lahan produktif 2 hektare, 3 kolam ikan, dan 4 kandang ternak yang saling menopang, menuju desa mandiri pangan dan energi.

KB kemudian mengaitkan penjelasannya dengan nilai spiritual, mengutip firman Allah dalam Surah Al-A‘raf ayat 58:
“Dan tanah yang baik, tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhannya; dan tanah yang tidak subur, tanamannya hanya tumbuh merana.”
Ia menegaskan, ayat ini bukan sekadar tentang tanah secara fisik, melainkan juga tentang hati, niat, dan cara manusia memperlakukan bumi. Tanah yang dijaga dengan niat baik dan tidak dirusak oleh bahan kimia akan menumbuhkan hasil yang penuh berkah.
🌿 Generasi Z dan Tantangan Pangan Masa Depan
Dalam bagian akhir pelatihan, KB menekankan pentingnya peran generasi muda, khususnya Gen Z, agar tidak tercerabut dari akar pertaniannya sendiri.
“Generasi Z harus ikut turun tangan. Jangan hanya jadi pengguna teknologi, tapi jadilah inovator pertanian masa depan. Kalau mereka paham pentingnya pertanian sehat, Indonesia tidak akan krisis pangan, dan tidak akan terjajah oleh produk luar negeri yang kini membanjiri pasar kita,” tegasnya.
Peserta menyambut pesan ini dengan tepuk tangan meriah. Semangat kebersamaan dan motivasi untuk memulai praktik pertanian organik terasa menguat di antara mereka.
🌻 Penutup: Menumbuhkan Harapan Baru dari Banjarnegara
Pelatihan ini menjadi langkah nyata dalam membangun kemandirian pangan dan ekonomi berbasis nilai sosial dan spiritual di lingkungan Istana Yatim At-Taslim Yasin Terpadu.
KB menutup kegiatan dengan pesan:
“Setiap tanah bisa menjadi sumber kehidupan, setiap tetes air bisa menjadi berkah, dan setiap niat baik dalam bertani adalah ibadah. Dari sinilah kemandirian bangsa akan tumbuh.”
Melalui pelatihan ini, diharapkan lahir generasi tani muda yang tangguh, berakhlak, dan cinta lingkungan — sehingga Indonesia masa depan menjadi negeri yang mandiri, berdaulat, dan bebas dari ketergantungan pangan impor.
Wagino|Bara
