Banjarnegara – Sinnewsbara.com
Kajian rutin Ahad pagi kembali digelar pada Ahad, 01 Maret 2026 bertepatan dengan pekan ke dua Ramadhan 1447 H, bertempat di Gedung Istana Yatim At-Taslim YASIN Terpadu, Banjarnegara. Kegiatan ini dihadiri kurang lebih 140 jama’ah yang memadati aula dengan penuh antusias menyambut bulan suci Ramadhan.
Acara dibuka oleh pembawa acara dengan membacakan susunan kegiatan, dilanjutkan doa bersama untuk kedua orang tua masing-masing, baik yang telah wafat maupun yang masih hidup. Doa dipimpin oleh Ustadz Aso Sunarso, memohon agar seluruh jama’ah diberikan kelapangan hati, kesehatan, dan kemampuan mencerna ilmu yang disampaikan sehingga membawa keberkahan dalam kehidupan.

Ketua Yayasan Salam Abadi Indonesia (YASIN) dalam sambutannya melaporkan progres pembangunan Masjid Nur Salam dan asrama putra yang berjalan kurang dari 1,5 bulan. Alhamdulillah, pembangunan telah menyelesaikan pengecoran keliling balok atas. Beliau mengajak seluruh jama’ah untuk mensyukuri capaian tersebut sebagai hasil gotong royong dan kebersamaan para donatur serta jama’ah.
Dalam ajakannya, Ketua Yayasan menyampaikan harapan agar setiap kontribusi menjadi sebab Allah ﷻ membangunkan istana di surga bagi para muhsinin. Beliau juga mengingatkan jama’ah agar serius dan khusyuk dalam menyimak kajian sehingga ilmu yang diperoleh benar-benar membawa keberkahan. Ajakan tersebut ditutup oleh Wagino dengan penuh harap dan semangat kebersamaan.

Ringkasan Materi: Puasa dan Kesalehan Sosial
Pemateri: Imam Heri Purnomo, S.Pd., M.Pd.
Dalam penyampaian materinya, beliau menjelaskan bahwa secara bahasa puasa (Ash-Shiyam) berarti menahan diri (Al-Imsaak). Secara istilah, puasa adalah ibadah kepada Allah dengan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Kewajiban puasa Ramadhan ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 dengan tujuan utama membentuk pribadi bertakwa.
Ramadhan disebut sebagai madrasah kesadaran. Pertama, kesadaran ketakwaan—merasa diawasi Allah sehingga mendidik kejujuran. Kedua, kesadaran spiritual—memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an. Ketiga, kesadaran pengendalian diri—melatih kesabaran dan menjaga lisan serta emosi. Keempat, kesadaran sosial—menumbuhkan empati dan solidaritas terhadap sesama.
Kesalehan sosial ditekankan sebagai wujud nyata dari ketaatan beragama. Ibadah tidak berhenti pada ritual pribadi, tetapi meluas menjadi kepedulian sosial, solidaritas, keadilan, dan tindakan nyata membantu fakir miskin serta anak yatim.

Mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, terdapat tiga tingkatan orang berpuasa: puasa orang awam yang sekadar menahan lapar dan dahaga; puasa orang khusus yang menjaga seluruh anggota tubuh dari dosa; serta puasa khususul khusus, yakni puasanya hati dari orientasi duniawi dan sepenuhnya tertuju kepada Allah.
Beliau juga mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga karena kehilangan dimensi kesadaran sosial (HR. Ibnu Majah). QS. Al-Ma’un menegaskan bahwa mengabaikan anak yatim dan orang miskin merupakan bentuk pendustaan agama. Indikator kesempurnaan iman pun terletak pada kepedulian terhadap sesama.
Kajian ditutup dengan penegasan bahwa keberhasilan Ramadhan tidak hanya diukur dari banyaknya ritual, tetapi dari tumbuhnya tiga dimensi perubahan: spiritualitas, moralitas, dan kepedulian sosial.
“Spiritualitas tanpa kepedulian sosial akan kehilangan makna publiknya, sedangkan kepedulian tanpa spiritualitas akan kehilangan ketulusannya.”
Wage [Bara]
